-- SELAMAT HARI KORPS PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA (KORPRI) KE-46 (29 NOVEMBER 1971-2017) --- SMKPP N BANJARBARU MENGUCAPKAN SELAMAT MELAKSANAKAN UJIAN SEMESTER GANJIL BAGI SISWA TP. 2017/2018 --

TEKNIK UJI KADAR AIR BENIH

Tanggal : 18-05-2013 21:14, dibaca 1160 kali.

Kadar air benih adalah jumlah air yang terkandung dalam benih. Tinggi rendahnya kandungan air dalam benih memegang peranan yang sangat penting dan berpengaruh terhadap viabilitas benih. Oleh karena itu pengujian terhadap kadar air benih perlu dilakukan agar benih memiliki kadar air terstandar berdasarkan kebutuhannya.

Adapun tujuan dilakukan pengujian benih adalah untuk menentukan kadar air yang terdapat dalam benih. Kadar air benih penting untuk diperhatikan, karena kadar air benih sangat  berkaitan erat dengan kualitas benih, daya simpan benih, daya kecambah benih, dan serangan hama/penyakit. Seperti pada Gambar 6.1., nampak benih kedelai berkecambah lebih banyak pada bak biru dibanding bak pink. Daya kecambah benih kedelai rendah pada bak pink dapat disebabkan kadar air benih yang tinggi.

Umumnya kadar air saat biji dipanen berkisar antara 16% - 20%. Pada kisaran kadar air ini biji telah mengalami tingkat kematangan mencapai masak fisiologis di mana embrio dalam  biji telah terbentuk dengan sempurna, sehingga biji akan memiliki viabilitas tinggi. Apabila benih akan disimpan jangka waktu  lama tanpa menurunkan viabilitas, maka kandungan air benih harus diturunkan hingga mencapai optimal berkisar antara 6% - 12%, hal ini tergantung pada masing-masing jenis benih. Apabila benih disimpan dengan kadar air yang relatif tinggi, benih akan cepat mengalami penurunan viabilitas. Hal ini disebabkan kadar air tinggi akan mempengaruhi peningkatan kegiatan enzim yang akan mempercepat terjadinya respirasi yang dapat berakibat benih kehabisan  bahan cadangan makanan. Proses respirasi benih akan menghasilkan panas dan air yang dapat mempengaruhi kelembaban di sekitar benih menjadi tinggi.

Kadar air benih selama penyimpanan merupakan faktor yang paling mempengaruhi masa hidupnya, maka benih yang sudah masak dan cukup kering penting untuk segera dipanen, atau benihnya masih berkadar air tinggi yang juga harus segera dipanen. Laju kemunduran suatu benih dipengaruhi oleh kadar airnya.

Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6% - 8%. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam. Sedang dalam penyimpanan menyebabkan naiknya aktivitas pernapasan yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu benih dengan kadar air tinggi dapat merangsang  perkembangan cendawan patogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio.

B.  Mengenal Peralatan Uji Kadar Air Benih

1.  Alat Pengancur Benih (grinding mill)

Alat penghancur benih  atau grinding mill, (Gambar 6.2.), untuk uji kadar air harus memiliki persyaratan sebagai berikut :

  1. Konstruksi bahan yang digunakan tidak mengadsorbsi air di sekitarnya. Ini sangat penting agar benih sebelum maupun sesudah dihancurkan kadar airnya tidak mengalami perubahan.
  2. Kecepatan putaran yang tinggi dari alat hendaknya jangan menimbulkan panas.
  3. Kecepatan dapat diatur sehingga besar partikel yang dihasilkan sesuai dengan ketetapan yang ditentukan.
  4. Penentuan skala penghancuran pada grinding mill dilakukan dengan cara sebagai berikut :

2.  Oven Suhu Konstan

Oven berfungsi untuk mengeringkan benih yang akan diuji kadar airnya, (Gambar 6.3.).  Oven yang digunakan adalah oven listrik yang dilengkapai dengan thermostat dengan ketelitian 0,5° C. Thermostat mempunyai fungsi mengontrol suhu sesuai dengan yang dikehendaki. Apabila terjadi perubahan suhu, misalnya karena oven dibuka saat memasukan wadah ke dalamnya, maka dalam waktu 15 menit kemudian oven harus dapat mencapai suhu semula.

3.  Wadah

Wadah berfungsi untuk menempatkan benih yang akan dioven, Wadah yang digunakan bahan metal yang tahan karat atau porselen gelas dengan tebal 0,5 mm. Wadah ini memiliki tutup yang rapat untuk menghindari kehilangan dan penambahan uap air dari udara. Bagian sisi dari wadah tersebut bundar dan bagian bawahnya datar.  Wadah dan tutup harus diberi nomor  yang sama supaya jangan salah pasangannya. Pemberian tanda yang sama agar tutup dan wadah tidak tertukar karena pada saat pengovenan wadah harus dibuka dan dimasukkan keduanya. Sebelum digunakan wadah dikeringkan dahulu dalam oven 130° C selama 1 jam dan didinginkan dalam desikator.

4.  Penjepit Asbes dan Sarung Tangan

Penjepit dan sarung tangan, (Gambar 6.5.), digunakan untuk memasukkan dan mengeluarkan wadah dari oven. Kedua alat ini terbuat dari bahan yang tahan dengan suhu  panas seperti suhu di dalam oven. Sehingga dengan menggunakan alat ini akan membantu agar tangan tidak langsung bersentuhan dengan wadah atau peralatan yang dapat menimbulkan luka bakar selama pengujian belangsung.

5.  Desikator

Desikator berfungsi mendingin-kan benih dan wadah setelah dioven, agar tidak bersentuhan langsung dengan udara luar yang dapat berpengaruh pada kadar air benih, (Gambar 6.6.). Diameter desikator berkisar antara 20 – 30 cm. Bagian tengah terdapat logam atau porselen untuk meletakkan wadah benih. Bagian bawah diisi dengan silika gel untuk menyerap uap. Jika desikan tersebut sudah lembab maka harus dipanaskan dalam oven selama 1 jam dengan suhu 130° C atau desikan tersebut diganti.

6.  Timbangan Analitik

Timbangan analitik berfungsi untuk menimbang baik benih maupun wadah (poselin atau metal) selama proses uji kadar air berlangsung, (Gambar 6.7.).  Timbangan yang digunakan mempunyai satuan ukuran dalam gram dengan ketelitian 3 desimal (mampu menimbang hingga 0,001 gr).

7.  Alat Pemotong

Alat memotong dan  mengiris benih tanaman tahunan berukuran besar dan keras adalah gunting dengan panjang mata pisau minimal 4 cm.

 C.  Teknik Penyiapan Contoh Kerja

Bahan utama untuk uji kadar air benih adalah contoh kerja. Penetapan kadar air dilakukan dengan 2 ulangan yang pengambilan contonya secara terpisah. Adapun berat contoh tergantung diameter wadah yang digunakan. Wadah dengan diameter kurang dari 8 cm berat contoh kerja 4 – 5 gr, sedangkan wadah dengan diameter lebih dari atau sama dengan 8 cm berat contoh kerja 10 gr. Sebagaimana penjelasan sebelumnya untuk uji kadar air dapat digunakan porselen atau metal.

Sebelum pengambilan contoh kerja, contoh kirim harus diaduk dan dicampur menggunakan salah satu metode di bawah ini :

  1. Aduk contoh dalam wadah dengan menggunakan sendok.
  2. Buka tutup wadah serupa yang kosong kemudian mulutnya didekatkan dengan wadah yang berisi benih kemudian dituangkan bolak balik di antara 2 wadah tersebut hingga tercampur.

Pengambilan contoh kerja tidak boleh berhubungan dengan udara. Waktu yang dibutuhkan untuk mengambil contoh tidak boleh lebih dari 30 detik.

 

D.   Prosedur Kerja Uji Kadar Air

1.   Tujuan

Menentukan persentase kadar air benih dengan metode oven suhu konstan.

2.   Petunjuk keselamatan

Hati-hati saat melakukan setiap langkah kerja terutama penggunakan peralatan listrik.

3.   Alat dan Bahan

  1. Alat : oven, desikator, timbangan analitik, penghancur, porselen/metal, sarung tangan asbes serta penjepit, alat tulis, dan kartu uji kadar air.
  2. Bahan : contoh kirim padi

4.   Langkah Kerja

  1. Mempersiapkan alat dan bahan lengkap
  2. Menyiapkan contoh kerja kerja : 1) Contoh kirim diaduk, 2) 2 ulangan, 3) Setiap ulangan, berat 4 - 5 gr, 4) dengan timbangan analitik.
  3. Benih dihancurkan dengan alat penghancur  benih atau grinding mill, perhatikan Gambar 6.9. adapun skala yang digunakan untuk menghancurkan benih yaitu skala 1. 
  4. Menimbang cawan : 1) Cawan + tutup Kondisi kosong (M1), 2) Penimbangangan cawan yang diisi contoh kerja dengan kondisi terutup (M2)
  5. Mengoven cawan yang berisi benih padi dengan tutup cawan terbuka selama 2 jam,
  6. Mendinginkan  cawan : 1) Dimasukkan ke dalam desikator selama 30 menit, 2) Cawan tertutup
  7. Menimbang cawan yang berisi contoh kerja (M3)Menghitung persentase kadar air
  8. Mengisi kartu uji kadar air.

 

DAFTAR RUJUKAN

Hasanah. 2012. Pengujian Standar Mutu Benih Padi (Oryza sativa) di BPSBTPH  Provinsi Kalimantan Selatan. Laporan PKA. Kompetensi Keahlian TPH. SMK-SPP Negeri Banjarbaru.

Kartasapoetra, A.G. 2003. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntutan Praktikum. Cetakan Ke-4. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Keputusan Direktur Jendral Hortikultura No. 31.A/HK.050/06/2007. Tentang Pedoman Sertifikasi Benih hortikultura.

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Cetakan 5. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Sutopo, L. 2010. Teknologi Benih Edisi Revisi. Cetakan 7. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

 

           

 



Pengirim : Abdul Wahid, SST
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : asSlcmb -  [thomasena@emaileverybody.bid]  Tanggal : 24/10/2016
<a href=http://diclofenac50mg.trade/>voltaren medicine</a> <a href=http://buspar.website/>generic buspar</a> <a href=http://generic-lipitor.gdn/>generic lipitor price</a> <a href=http://buybuspar.red/>buy buspar</a> <a href=http://clonidine-online.gdn/>clonidine online</a>


   Kembali ke Atas