-- SMKPP N BANJARBARU MENGADAKAN PELATIHAN PENYUSUNAN BAHAN AJAR BAGI GURU (9 SD 10 OKTOBER 2017) --- NILAI INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT SMKPP N BANJARBARU SEMESTER 1 TAHUN 2017: 82.22 % (SANGAT BAIK) --

Pencarian
Waktu saat ini
Agenda
20 October 2017
M
S
S
R
K
J
S
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Pelayanan
PPID SPPNBANJARBARU
Pelayanan Publik
E-Library SMK-PP N Banjarbaru
Link Terkait
WBS KEMENTAN RIKalender Tanam PertanianLPSE Kementerian PertanianKEMENDIKBUDKota BanjarbaruKalselProv

PRAMUKA DI SOSIAL MEDIA

Tanggal : 25-11-2014 14:52, dibaca 1111 kali.

“Ramaikan hari Pramuka dengan selfie menggunakan baju Pramuka.  Atau bagi para orang tua murid, foto bersama anak-anaknya sebelum berangkat sekolah menggunakan baju Pramuka.  Pasang sebagai DP di BBM, facebook, twitter, path, dan media social lainnya,” demikian kata Ketua Kwarnas Adhyaksa Dault, usai acara Ulang Janji Pramuka yang berlangsung Rabu (13/8), di Jakarta

Dengan jumlah pengguna internet sebanyak 63 juta orang, yang mana 95% mengarah pada jejaring social seperti facebook atau twitter, kegiatan ini seharusnya memperbincangkan banyak hal, tak terkecuali tentang pramuka.  Namun pada kenyataannya, apa yang terjadi di depan layar tidaklah demikian.  Kalau kita perhatikan, sangat sedikit sekali pengguna internet yang didominasi oleh kaum muda memperbincangkan masalah pramuka dalam kegiatan online mereka. Seolah-olah, kata pramuka terkesan kampungan alias tidak modern.  Seolah-olah pramuka berada di sebuah negeri entah berantah, tak terjangkau oleh para pengguna dunia maya.

Sebenarnya tidak ada yang salah mengapa hal ini bisa terjadi.  Masyakarat hanya butuh pembiasaan melakukan hal tersebut.  Masyarakat pramuka butuh sebuah kesadaran lebih tinggi bahwa kegiatan pramuka tidak hanya sebatas jalan di hutan, belakang sekolah, melintasi sungai, dan hal lain yang mungkin memalukan untung diposting di media social.  Akan tetapi, dalam kegiatan pramuka banyak sekali hal-hal positif yang bisa disebarkan kemasyarakat melalui media social, baik dengan foto, video atau sekedar tulisan saja.

Media social memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk kesadaran tersebut. Jika kita perhatikan, bagaimana maraknya foto selfie akhir-akhir ini, tentu hal ini berasal dari seseorang atau sekelompok yang kemudian menjamur dari satu akun media social keakun yang lain, dan ditiru orang lain.  Benar-benar mendunia.  Mengapa pramuka tidak bisa melakukannya?  Apakah tidak ada ide bagi seorang saja anggota pramuka yang membuat sebuah tindakan social media yang kemungkinan akan bisa mendunia?  Bagaimana caranya? Hal inilah yang harus kita jawab bersama.

Sekali lagi, seandainya kita punya komitmen bersama untuk mewujudkan semua ini, rasanya tidak mustahil, kita akan menemukan anak-anak sekolah menyematkan satu buah foto mereka dengan seragam pramuka, atau memuat satu buah foto tentang kegiatan pramuka.  Harapan terbesarnya adalah hal ini akan diikuti oleh teman-temannya, demikian seterusnya, sehingga muncul sebuah ikon baru, selain selfie tadi.  Tentu saja banyak hal positif yang bisa didapatkan.  Dengan mewabahnya pramuka di social media, ingatan masyarakat yang mungkin sudah meninggalkan pramuka akan terbangunkan, dan kesadaran untuk terus berperan aktif semakin tinggi.  Pramuka tentu bukan sesuatu yang kampungan lagi, tetapi sebagai sebuah kebanggan bagi seseorang, ketika dalam akun social medianya terselip sesuatu tentang pramuka.

Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang sekejap mata bisa disemarakkan.  Semua pihak harus berperan aktif, tidak hanya masyarakat pramuka saja, tetapi juga para guru, orang tua, saudara, keluarga harus mendukung hal ini.  Dan dalam pelaksanaannya juga harus benar-benar punya komitmen yang tinggi.  Seperti misal dalam sebuah sekolah, dibuat sebuah akun facebook yang khusus membicarakan masalah pramuka, dimana setiap siswa yang punya akun facebook diwajibkan untuk bergabung.  Demikian juga dengan sekolah lain dalam satu kecamatan, kabupaten, kota dan provinsi.  Hal ini tentu bukan masalah dikarenakan pramuka sudah menjadi ekstrakurikuler wajib pada kurikulm 2013.

Sehingga ketika ada sebuah kegiatan, penyampaian informasi menjadi sangat luas dan cepat, mengingat kuatnya jaringan media social.  Dengan adanya hal tersebut, Pembina pramuka diharapkan dapat saling membuka jalur komunikasi satu sama lain dan dapat saling meninjau segala aktivitas.  Antara satu wilayah dengan wilayah lain dapat berkoordinasi dengan baik, baik itu tentang kegiatan, program, ataupun semacam pertemuan lainnya.

Selain itu, dapat pula dikomunikasikan bagaimana membuat sebuah program yang menarik, tidak hanya dimainkan di dunia nyata, juga bisa dilakukan di dunia maya.  Tentu saja dapat dibayangkan, bagaimana nantinya hubungan akan semakin terjalin erat, kekompakan akan semakin solit, dan jiwa korsa akan makin terbentuk dari semua golongan.   Bahkan persahabatan yang hiruk-pikuk itu pun sesungguhnya tetap dinikmati secara sendiri-sendiri, di depan komputer atau telepon genggam.

Pramuka harus bisa mengikuti perkembangan zaman, agar mudah diterima kaum muda yang sudah mulai salah memandang pramuka.  Tantangan berat saat ini adalah
mental, moral, sikap dan perilaku sebagian kaum muda yang sangat tidak mencerminkan karakter Bangsa Indonesia.  Banyak kasus kriminal, narkoba, pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan kaum muda.  Pendidikan karakter Pramuka harus dapat mengikis ini.

Jika perubahan mental itu berasal dari apa yang mereka lihat dan dengar (media social), maka mengapa tidak ikut menceburkan diri ketempat yang sama?  Tapi tentu dengan menjunjung tinggi nilai-nilai positif.  Dengan menjamurnya situs-situs atau berita-berita negatif di internet, maka dibutuhkan sebuah penyeimbang agar segala sesuatunya tidak benar-benar terpuruk.  Pramuka di media social adalah sebuah jawabannya.

Untuk masuk keseluruh kalangan sebagaimana lingkungan Pramuka yang beragam, maka anggota Pramuka harus dapat mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi dengan cara yang positif.

MANFAAT

Manfaat yang diharapkan melalui peran media social terhadap pramuka sangatlah banyak.  Yang pertama, tentunya adalah mengingatkan kembali pada sebagian masyarakat yang mungkin selama ini sudah melupakan kegiatan pramuka.  Bagaimanapun juga, apa yang pernah didapatkan dalam pramuka bukanlah sebuah kegiatan sia-sia.  Dalam berbagai kesempatan hidup, apapun profesi kita, nilai-nilai luhur pramuka sedikit banyaknya akan kita gunakan.  Sebut saja itu tentang kedisiplinan, keuletan, kesabaran, ketangguhan, rela berkorban, kesetiaankawanan, cinta alam, rasa kasih sayang, dan sebagainya.  Coba kita hayati dasa darma pramuka, bukankah hal tersebut merupakan sebuah petuah hidup yang sangat berguna?  Kapanpun dan dimanapun, hal tersebut adalah sebuah tindakan dan pemikiran positif yang harus dilakukan oleh setiap manusia. 

Selain itu, hadirnya pramuka di media social adalah untuk memperluas jaringan informasi kepada masyarakat, terutama anggota pramuka, tentang program-program yang dijalankan.  Hal ini bukanlah sebuah pekerjaan yang sulit, mengingat dahsyatnya kekuatan media social, khususnya pada generasi muda. 

Dengan adanya pramuka di media social, setidaknya menghilangkan anggapan bahwa pramuka bukanlah produk tradisional.  Pramuka mendapat kedudukan sebagai sebuah kegiatan positif yang perlu diperhatikan selain aktivitas game, perangkat software, dan lainnya, yang sudah ikut masuk ke media social.  Laman pramuka adalah sebuah laman positif yang akan memberikan banyak hal menarik bagi setiap orang dari semua kalangan. 

Dengan diwajibkannya pramuka sebagai ektrakulikuler pada kurikulum 2013, maka keberadaan pramuka di social media benar-benar memberikan hal yang positif terhadap pelajar.  Mengingat sampai saat ini, informasi dan kegiatan pramuka kebanyakan dilakukan hanya pada suatu tempat dan waktu tertentu saja, misalnya dalam sebuah kegiatan perkemahan.  Melalui social media, tidak ada lagi batasan ruang dan waktu dalam menemukan sebuah informasi. 

Jika hal ini benar-benar bisa dikembangkan, maka keberadaan pramuka di media social akan menemukan tujuan puncaknya, yaitu menjadikan media social bukan lagi sebagai sebuah media hiburan, tetapi menjadi sebuah media pembelajaran, pemerolehan ilmu, dan menjadi tempat silaturrahmi yang baik bagi segenap masyarakat.(E.I)



Pengirim : Edy Irpani, S.Pd - Guru SMK-PP N Banjarbaru
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas