Tanggal : 02/16/2022, 12:08:52, dibaca 2585 kali.

MELALUI MAF, PETANI SUKSES & PRAKTISI BERBAGI PENGALAMAN


Banjarbaru, - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sendiri berulang kali mengingatkan bahwa budidaya tanaman hidroponik, yang kini marak di masyarakat perkotaan menjadi langkah positif mendukung ketahanan pangan nasional.


"Pertanian perkotaan atau melalui budidaya tanaman sistem hidroponik, selain bisa menambah pendapatan juga mendukung langkah pemerintah dalam rangka ketahanan pangan," kata Mentan Syahrul.


Maka guna mendukung hal di atas, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), kembali menggelar Millenial Agriculture Forum (MAF), Sabtu (12/2/2022).


Tentunya kegiatan MAF ini di fasilitasi oleh Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan), yang kali ini dilaksanakan oleh SMK-PP Negeri Banjarbaru selaku Unit Pelaksana Teknis Kementan dengan mengangkat tema “Smart Hydroponic: Solution for Climate Change”.


Edisi MAF kali ini mengundang 2 pemateri yaitu petani bidang pertanian melalui hodroponik yang juga Duta Petani Milenial dari Kalimantan Timur yaitu Ali Luthfi, serta pemateri dari Instruktur Balai Latihan Kerja (BLK) Lembang, Jawa Barat, yaitu Iwan Hermawan.


Di kesempatan itu, Ali Luthfi yang mulai menekuini dunia pertanian sejak 2019 di belakang rumahnya ini, mengajak kita untuk bergerak dahulu apabila ingin berwirausaha di sektor pertanian.


“Kita harus berani bergerak, berani menerima tantangan karenan nantinya dengan ketekunan akan menemukan jalan keberhasilan dalam berwirausaha di bidang pertanian, karena itu semua perlu proses”, Jelas pemilik PT. Bara Farm ini.


Sebagai seorang petani di sela-sela kesibukannya sebagai pegawai BUMN, Luthfi berhasil mendapatkan penghasilan sekitar 70 jutaan per bulan. Hal itu tidak lepas dari semangatnya untuk terus belajar, seperti smart farming dan menerima masukan dari konsumennya.


“Dalam budidaya hidroponik melon kita harus terus belajar, baik di on farm, seperti penggunaan smart farming yang menurut kita bagus seperti apa, dan tentunya di off farm nya yaitu menerima masukan dari konsumen, serta menjaga kualitas produk kita”, Terangnya.


Lanjut Iwan Hermawan sebagai intruktur yang bergerak di smart farming greenhouse menjelaskan, “Kami coba mengintegrasikan smart farming berbasis Internet of Think (IoT), ada 3 yang kami kembangkan yaitu system kontrol irigasi dan pemupukan, hidroponik di otomatisasi pemupukan, dan perikanan untuk manajemen pakan ikan, jadi kami siap membantu pelatihan terkait smart farming dengan micro controller”, Terangnya.


Penggunaan smart farming sesuai arahan Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, yang hadir dan memberikan arahan serta membuka MAF ini menyampaikan bahwa hodroponik farming merupakan salah satu dari smart farming.


Dedi Nursyamsi mengatakan, "Pertanian Hidroponik adalah solusi untuk climate change karena hidroponik ini tidak membutuhkan lahan yang luas, jadi tidak ada istilah kebanjiran atau kekeringan", terangnya.


"Pertanian itu bisa dilakukan dimana saja, tidak harus di pedesaan saja tapi di perkotaan, di halaman sempit pun bisa, itu dinamakna urban farming, dan yang paling cocok adalah dengan Hidroponik", papar Dedi Nursyamsi.


"Tren hidroponik ini harus terus dikembangkan didukung dengan teknologi, maka melalui MAF ini calon ataupun generasi muda pertanian dapat mengambil ilmu dari para nara sumber" Tambahnya.


Tim Ekpos SMK-PP Negeri Banjarbaru