Tanggal : 01/22/2024, 06:42:45, dibaca 1989 kali.
BERTANI LOKAL INSPIRASI KOREA ALA PETANI TANAH LAUT

BANJARBARU - Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan berbagi informasi merupakan hal penting untuk yang dapat meningkatkan produksi pertanian. Mentan Amran menambahkan, hal ini juga sejalan dengan semangat Kementerian Pertanian yang bertekad untuk kembali mewujudkan swasembada.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, sependapat dengan hal tersebut. Ia menjelaskan, studi tiru adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian.
"Dan kualitas SDM yang meningkat tentunya akan berdampak sangat positif untuk peningkatan produksi pertanian. Apalagi SDM adalah faktor pengungkit utama dalam peningkatan produksi pertanian," tuturnya.
Menindaklanjuti hal tesebut, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) kembali menggelar Millenial Agriculture Forum (MAF) Volume 5 Edisi 3 dengan mengangkat tema “Bertani Lokal Inspirasi Korea”.
Gelaran MAF kali ini dilaksanakan oleh salah satu Unit Pelaksana Teknisnya yaitu SMK-PP Negeri Banjarbaru via zoom meeting pada Sabtu, (20/1/2024), bertempat di kampus SMK-PP N Banjarbaru.
MAF mengundang narasumber petani milenial asal Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan yaitu Prastio Kuntoro. Selain itu juga hadir Idha Widi Arsanti, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, dan Budi Santoso, Kepala SMK PP Negeri Banjarbaru.
Mengawali acara, Kepala SMK-PP Negeri Banjarbaru, Budi Santoso menyampaikan semoga kegiatan ini menambah wawasan kita, berbagi pengalaman bersama dengan petani muda dari Tanah Laut.
"Prastio Kuntoro ini terdaftar sebagai penerima manfaat Program YESS ini, Prastio mendapatkan berbagai pelatihan, bantuan, ilmu, dan bahkan diajak oleh Kementan untuk berlatih pertanian ke Korea. Jadi mari kita sama-sama belajar di MAF ini yang pertama dilaksanakan oleh SMK-PP Negeri Banjarbaru", jelas Budi.
Budi menambahkan, "Kabar gembira bagi petani tentang pupuk subsidi dan bbm bersubsidi, bahwa Pemerintah mengalokasikan tambahan pupuk subsidi di 2024, senilai 14 triliun atau setara 2,5 juta ton, jadi di 2024 menjadi 7.2 juta ton. Untuk bbm subsidi poktan dapat membeli dengan membawa surat yang disahkan Kepala Desa setempat" ujarnya.
.
Hadir dan membuka MAF ini, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan), Idha Widi Arsanti, yang memaparkan bahwa sekarang kita hanya memiliki 6 juta petani muda dari 32 juta petani yang ada sekarang, kita berharap generasi Z terjun menjadi aktor di sektor pertanian.
"Kita harap anak-anak kita generasi Z yang kini mencapai 56% dari jumlah penduduk Indonesia, bisa kita undang ke sektor pertanian, dan mendorong terjun ke sektor pertanian. Sebab itu adik-adik ini sangat kenal dunia teknologi, sehingga bisa menerapkan pertanian di era 4.0" kata Santi.
"Selain itu kita harap petani muda seperti mas Kuntoro ini dapat meningkatkan kapasitasnya. Agar tidak berpikir biasa, harus berpikir out of the box, harus berpikir modern, harus mapping produk, disertifikasi produk dan menciptakan claster, dan selanjutnya menciptakan kelembagaan dan kemudian bermitra dan mendapatkan kontrak farming", ujanya.
Pemateri MAF, Prastio Kuntoro yang juga Penerima Manfaat Program YESS PPIU Kalimantan Selatan ini terjun ke dunia pertanian karena mengikuti jejak orang tua, dan akhirnya mencintai dunia pertanian ini.
Ia menjelaskan mendapatkan dana bantuan modal agribisnis melalui Program YESS, untuk mengembangkan usaha. Selain itu juga mendapatkan berbagai pelatihan dari Kementan dan juga mendapatkan channel dan kenalan ke banyak orang.
Bahkan pemuda dari Desa Ranggang, Kecamatan Takisung ini mendapatkan bantuan Kerjasama dengan pengusaha. Melalui Kerjasama ini Ia dapat mengembangkan pertanian melalui metode smart farming yaitu system hidroponik buah melon, bahkan rencananya akan memiliki 12 greenhouse.
Seperti dijelaskan Kuntoro, “Saat masih Bertani secara konvensional pertiap kali tanam begitu banyak resiko. Setelah saya terapkan pertanian modern melalui hidroponik, begitu saya lakukan HPP nya begitu rendah, dan biayanya tidak mahal, kualitas yang bagus dan hasil keberhasilan mencapai 90%”, kata Kuntoro.
“Setelah panen saya hitung per greenhousenya, setelah saya total mendapatkan buah melon kurang lebih sebanyak 2 ton, dengan harga rata-rata per kilogram sebesar 35.000. Setelah saya total per greenhouse mendapatkan 70 juta dengan modal sekali tanam dan penyusutan 5 juta per greenhousenya”, ujarnya.
Prastio Kuntoro mengajak petani muda untuk terjun ke sektor pertanian karena pertanian itu keren, tentunya dengan menerapkan smart farming. Sebab hasil dari pertanian selalu dibutuhkan, karena selagi bumi masih dihuni oleh manusia, mereka masih membutuhkan bahan makanan, jadi tanpa petani mau jadi apa.
Tim Ekpos SMK-PP Negeri Banjarbaru
- Berita Lainnya
-
MAGANG MAHASISWA DAN AKSELERASI CETAK SAWAH RAKYAT DI KAPUAS
Tanggal : 04/27/2026, 06:47:45
-
KEMENTAN GELAR TANAM SERENTAK PADI, DI CSR SERUYAN
Tanggal : 04/27/2026, 06:44:06
-
SISWA APHP SMKPPN KEMENTAN KUNJUNGI PT. INDOFOOD & BULOG
Tanggal : 04/27/2026, 06:43:13
-
KUNJUNGAN SMA K KANAAN BANJARMASIN KE LAB KULJAR
Tanggal : 04/22/2026, 07:07:05
-
AKADEMISI DAN MAHASISWA: SWASEMBADA PANGAN BUKAN MIMPI
Tanggal : 04/21/2026, 07:05:56